“Agnes Grey” by Anne Brontë-Novel Review

Penulis : Anne Brontë
Penerjemah : Ayu Pujiastuti
Penerbit : Bandung,  Qanita: PT.  Mizan.  
Pustaka,  2016
296 hlm. 20,5cm
ISBN : 978-602-402-050-7

Walaupun kekayaan memiliki pesona tersendiri, kemiskinan tidak membangkitkan kengerian bagi seorang gadis ingusan seperti diriku – Agnes Grey,  hlm 12.

    Entah kenapa,  saya merasa memiliki sedikit kesamaan dengan sosok Agnes Grey dalam beberapa hal. Seperti pekerjaannya yang adalah seorang guru dan kenyataan bahwa Ia bekerja di luar *kota yang cukup jauh dari rumahnya. Ya. Saat membaca novel ini,  saya suka senyum-senyum sendiri, like,  I feel you Agnes 😊

    Novel karya Anne Brontë, yang dipublis pada December 1847 ini, bercerita tentang kehidupan Agnes Grey, anak perempuan dari seorang Pendeta di Inggris Utara, yang harus bekerja untuk membantu keadaan ekonomi keluarganya yang sederhana. Saat mendapat kesempatan untuk bekerja sebagai guru privat di sebuah keluarga bangsawan, Agnes merasa begitu bersemangat. Ia -yang belum pernah bepergian jauh dari rumahnya- kini bisa merasakan bagaimana rasanya tinggal di tempat yang berjarak cukup jauh dari rumahnya. Ia pikir ini akan menjadi pengalaman berharga yang menyenangkan. 

    Di hari pertama Ia bekerja,  segala ekspetasinya hancur begitu melihat realita yang ada. In fact, Tuan rumah di tempatnya bekerja adalah seorang bangsawan yang angkuh dan tidak menunjukkan sedikit pun keramahan kepadanya. Kenakalan murid-muridnya membuat tanggung jawabnya terasa semakin berat. Namun, meski menghadapi begitu banyak tantangan dalam pekerjaannya, itu tidak membuatnya menyerah atau menyesali keputusannya untuk bekerja sebagai seorang guru privat. 

    Suatu ketika,  saat Ia harus bekerja pada Mr. Murray, sebuah keluarga bangsawan yang tinggal di Horton Lodge,  Ia bertemu dengan Edward Weston,  seorang pendeta baru yang melayani di Gereja Horton. Ia pun jatuh cinta pada sifat tegas Weston. Karakternya yang tenang dan bagaimana pria itu memperlakukan dan memandang sosok Agnes Grey dengan tidak memandang status sosialnya -sebagai seorang guru/pengasuh anak dari keluarga bangsawan- seperti yang kebanyakan orang lain lakukan terhadapnya, membuat Agnes begitu mengagumi sosok Weston. Namun sikap Weston yang sometimes terlihat kaku dan seperti menjaga jarak dengannya,  membuatnya ragu dan bingung, “shoud I let him know about my feeling? “. 

    Di balik semua beban kehidupan dan kesulitan yang dihadapi Agnes Grey selama bekerja, akankah setidaknya Ia mendapatkan akhir yang bahagia bersama seseorang yang dicintainya? 

    Novel karya Anne Brontë ini sangat menarik untuk dibaca. Sebagai seorang wanita, Agnes menunjukkan bahwa betapa pun sulitnya Ia menghadapi tuntutan atau tekanan sosial di sekitarnya, Ia tetap bisa menjadi diri sendiri. Tegas dengan keputusannya, melakukan apa yang dicintainya, meski kadang menangis -jika memang perlu- untuk mencurahkan emosinya. 

    Novel klasik Inggris yang satu ini tidak melulu dijadikan kajian sastra saja kok, tapi ceritanya yang ringan dan topiknya yang dekat dengan daily life bisa kita nikmati dengan membaca santai (di sore hari bersama segelas susu? *cos I don’t drink coffee) 😂.

    Well, If you interested enough to read this novel, happy reading! 

    Bagi yang sudah pernah baca, bagian mana dalam novel ini yang menjadi favorit kamu? 😊

    Advertisements

    2 Replies to ““Agnes Grey” by Anne Brontë-Novel Review”

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s