“A tale of two cities” By Charles Dickens-Novel Review

A tale of two cities

Penulis : Charles dickens

Penerjemah : Reinitha Lasmana

Penyunting : Dyah Agustine

Penerbit : Qanita, PT. mizam pustaka: Bandung, 2016

493 pages

ISBN 978-602-1637-96-8

Kemerdekaan, kesetaraan, persaudaraan, atau kematian. Wahai Guillotine, rupanya kematianlah yang paling mudah terwujud. – A tale of two cities

Sebuah novel berjudul “A tale of two cities” karangan Charles Dickens ini adalah salah satu novel terlaris sepanjang masa yang terjual kurang lebih dua ratus juta eksemplar di seluruh dunia. FYI, Charles Dickens sering disebut-sebut sebagai novelis terbaik di era Victorian (sounds cool, right?). Dickens lahir di Portsmouth, Inggris pada tahun 1812. Saat Ia masih kanak-kanak, ayahnya dipenjara karena berhutang. Kesulitan dalam segi financial membuat Dickens mengalami masa kecil yang kurang menyenangkan. Hal inilah yang kemudian memberi pengaruh besar terhadap karya-karyanya nanti.

Sampai sekarang novel-novel dan cerita pendek karya Dickens masih sangat populer dan diproduksi oleh para penerbit di segala penjuru dunia lho guys.

A tale of two cities, mengambil latar belakang kota Paris dan London. Ceritanya menggambarkan keadaan buruk pada kalangan masyarakat kecil di Perancis pada masa-masa sebelum terjadinya Revolusi hingga terjadinya revolusi Perancis di tahun 1790-an. Kemiskinan dan ketakutan kepada para penguasa melanda sebagian besar masyarakat di Perancis yang kemudian memicu pemberontakan.

Charles Darnay, seorang lelaki dari keluarga terhormat, meninggalkan gelar bangsawannya, dan menolak untuk menggunakan kekuasaannya demi kepentingan sendiri seperti yang dilakukan anggota keluarga lainnya. Ia lebih memilih untuk pergi ke London. Dalam pelariannya ini, Ia bertemu seorang gadis bernama Lucie, dan mereka berdua jatuh cinta.

Ayah Lucie, yakni dokter Mannate merupakan salah satu korban kekejian para aristokrat Perancis. Ia pernah di tahan di Bastille selama 18 tahun. Dokter Mannete sempat mengalami gangguan jiwa karena hari-hari yang berat yang dijalaninya di Bastille. Namun setelah bebas dan Ia kembali bertemu dengan Lucie, dengan penuh kasih sayang, Lucie merawat dan menemaninya hingga Ia mulai pulih.

Suatu hari, Charles terjerat kasus hingga membawanya ke persidangan di London. Ia dituduh sebagai mata-mata Perancis dan hampir dijatuhi hukuman. Namun seorang pengacara bernama Carton menolongnya hingga memenangkan persidangan.

Ternyata guys, Carton juga mencintai Lucie. Cintanya yang tulus (pake banget) menbuatnya rela melakukan apa saja demi kebahagiaan Lucie (aw..so sweet). Namun takdir tidak berpihak kepada Carton untuk memiliki Lucie.

Saat Revolusi Perancis pecah, masyarakat golongan atas, para pejabat dan penguasa menjadi sasaran kebrutalan dan kebencian rakyat kecil di Perancis. Satu-persatu para aristokrat itu diadili dan dijatuhi hukuman mati. Kepala mereka ditancap di ujung tombak dan dipamerkan di pinggir-pinggir jalan.

Saat itu Charles terpaksa pulang ke Paris karena sebuah surat yang memintanya kembali ke sana. Tetapi Ia malah dipenjara dan diancam hukuman mati. Saat itu Ia sudah menikah dengan Lucie bahkan sudah memiliki seorang puteri.

Bagaimanakah Ia bisa menyelamatkan diri dari hukuman mati itu? Apakah Ia bisa bebas dari penghakiman yang dilakukan beratus-ratus orang secara brutal yang menginginkan kepalanya? Bayang-bayang keluarga Charles yang merupakan para bangsawan tentu memberatkan posisinya saat itu. Namun di saat-saat terakhir datanglah seseorang yang memberinya pertolongan atas nama cinta.

‘A tale of two cities’, sebuah novel dengan latar belakang cerita sejarah. Kekejaman dan kekacauan pada masa sebelum dan saat terjadinya revolusi Perancis, serta keadaan kota London di periode yang sama, juga digambarkan secara bersamaan. Di balik semua kebrutalan para kaum revolusi, serta ancaman hukuman mati kepada para aristokrat, Dickens juga menghadirkan kisah cinta antara Charles dan Lucie, begitu juga cinta Lucie kepada ayahnya, yakni dokter Mannete.

Karakter yang kuat di setiap tokoh dalam novel ini memberi gambaran kehidupan di era Victorian. Salah satunya yaitu Lucie, yang merupakan seorang anak berbakti, seorang istri dan ibu yang baik dan sabar, A lovely wife and mother, benar-benar menggambarkan karakter perempuan di era itu. 

As I mentioned before, novel ini adalah yang terlaris sepanjang masa. Kalian pasti penasaran kan bagaimana keseluruhan ceritanya hingga penjualannya bisa mencapai kurang lebih dua ratus juta eksemplar. Honestly, Saya sendiri menghabiskan cukup banyak waktu untuk membaca novel ini (terlalu banyak pause). Bukan karena ceritanya kepanjangan, bukan. Mungkin karena saya lagi kurang mood aja waktu baca novel ini, sampe gak dapet efek magnet dari cerita ini. However, novel ini worthy untuk dibaca sampai selesai. Bahkan setelah selesai membaca halaman terakhir dari novel ini, saya masih tercengang dengan akhir ceritanya. Tragic, touching, but also the horrible story behind the revolution masih terbayang-bayang di pikiran saya.

Well, kisah yang diangkat dari sejarah pastinya memberi kita wawasan or setidaknya mengembalikan ingatan-ingatan kita tentang sejarah masa lalu meskipun kita tidak pernah terlibat langsung dalam kisah-kisah itu (ya iyalah ya, kita kan belom lahir tahun 1700-an. Haha).

So, kalo kamu lagi pengen baca novel serius (I mean, ceritanya gak simple dan santai), nah novel karya Dickens yang satu ini cocok banget buat kamu. Enjoy reading guys 😉.

Advertisements

2 Replies to ““A tale of two cities” By Charles Dickens-Novel Review”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s