“Mahabharata” By C.Rajagopalachari- Novel Review

BY: KARINA JACQUALINE EMAN

Mahabharata

Penulis: C.Rajagopalachari

Penerjemah: Yudhi Murtanto

Penerbit: Jogjakarta; IRCiSoD

497 pages

ISBN: 979-963-457-1

Mungkin sebagian dari kamu sudah ada yang pernah dengar cerita Mahabharata, atau bahkan sudah menguasai seluk beluk cerita ini, sampe hafal semua tokoh di dalamnya. Or maybe, kamu adalah salah satu penggemar berat serial Bollywood ‘Mahabharata’ yang sempat heboh saat tayang di salah satu Tv Nasional tahun lalu. Tapi, udah pada baca Novelnya belom? First, yuk kita kepo-in asal usul kisah Mahabharata ini.

Mahabharata adalah sebuah karya sastra kuno yang berasal dari India. Secara tradisional, penulis Mahabharata adalah Begawan Byasa atau Vyasa. Buku ini terdiri dari delapan belas kitab, makanya sering dikenal juga dengan Astadasaparwa (asta = 8, dasa = 10, parwa = kitab). Mahabharata mengisahkan konflik antara kelima Pandawa dengan saudara sepupu mereka Seratus Kurawa menyangkut kekuasaan yang berujung pada perang di medan Kurusetra. Kisah yang pada awalnya ditulis dalam bahasa Sansekerta ini, berisi tentang cerita kepahlawanan (wiracarita), jalan kebenaran (dharma), juga mengandung nilai-nilai Hindu dan mitologi, that’s why Kisah ini dianggap suci, especially bagi pemeluk agama Hindu. (wow, didn’t I look so smart? hahaha) Okay, honestly I get that information from,

https://id.wikipedia.org/wiki/Mahabharata

(thanks wikipedia…xoxo)

Nah, kemudian pada tahun 1958, Rajagopalachari mempublis novel Mahabharata ini, di mana Ia menceritakan kembali kisah Mahabharata secara singkat dalam bahasa Inggris. Dan pada tahun 2001 novel ini terjual over a  million copies, dan disalin ke berbagai bahasa di dunia. Lalu bagaimanakah kisah Mahabharata yang diceritakan kembali oleh C.Rajagopalachari dalam novelnya? Berikut reviewnya >>

Pada Bab awal, diceritakan mengenai asal usul Pandawa, dimulai dari kisah Raja Sentanu hingga kisah Raja Pandu, yang adalah ayah dari Para Pandawa (meskipun tidak secara biologis). Secara jelas penulis menggambarkan silsilah keluarga, yakni keturunan Raja Sentanu, sehingga kita dapat melihat hubungan keluarga/keterkaitan antar tokoh dalam kisah ini (silsilah keluarga, page 26).

Suatu ketika, Raja Pandu terkena kutukan pada saat Ia membunuh seekor kijang jantan di Hutan, yang ternyata merupakan jelmaan seorang Resi. Karena kutukan itu, Ia tidak bisa memiliki keturunan dari kedua isterinya, yakni Dewi Kunti dan Dewi Madri (in other words, He can’t have sex with his wife, cos he will die if he did it). Ia sangat sedih, dan karena itu Ia memutuskan untuk mengasingkan diri ke hutan bersama kedua isterinya, dan menjalani tapa brata. Nah karena Dewi Kunti kasihan sama sang Raja, maka Ia menceritakan padanya bahwa Ia mempunyai mantra sakti yang Ia terima dari Resi Durwasa. Jika Ia mengucapkan mantra itu, Ia dapat memanggil Dewa apapun untuk memberinya anak. Maka dengan mantra tersebut, Dewi Kunti melahirkan Yudhistira, Arjuna, dan Bima. Sedangkan Dewi Madri melahirkan Nakula dan Sadewa. Merekalah yang dikenal sebagai kelima Pandawa, pemberian Dewa. Mereka lahir dan dibesarkan di hutan bersama para pertapa.

Setelah kematian Pandu, Dewi Kunti dan kelima Pandawa kembali ke Hastinapura dimana Destarata (brother-nya Pandu), dan anak-anaknya, yakni keseratus Kurawa tinggal di sana. Time goes on and on. Pandawa tumbuh menjadi pemuda-pemuda yang cakap, tangguh, bijak dan berkharisma (Kece badai lah pokoknya). Mereka begitu populer dan disukai banyak orang. Dari orang-orang kerajaan hingga rakyat kecil sangat mengagumi mereka. Hal ini menimbulkan rasa cemburu yang really-really parah, gak ada obatnya, bagi keseratus Kurawa (anak-anak Destarata) yang sebenarnya adalah sepupu para Pandawa. Karena kecemburuan inilah, sehingga salah seorang anak Destarata yang bernama Duryudana, mati-matian merencanakan sesuatu yang jahat, untuk membunuh kelima Pandawa. Berbagai perbuatan jahat dilakukannya, namun tak berhasil menyingkirkan kelima Pandawa yang Hebat ini.

Pada akhirnya, Yudhistira jatuh ke dalam jebakan Batman! (I mean, jebakan Duryudana). Duryudana sengaja mengundangnya bermain Dadu. Dalam permainan tersebut, Yudhistira kalah, dan Ia terpaksa kehilangan hak pemerintahan atas Indraprasta juga harus mengasingkan diri selama tiga belas tahun bersama keempat saudaranya, dan isteri mereka, Drupadi. Tiga belas tahun berlalu dan puncak konflik pun terjadi saat Pandawa meminta kembali hak mereka atas Indraprasta. Namun, Duryudana bersikeras tidak mau memberikannya. Padahal begitu banyak orang yang menasihatinya untuk berdamai dengan Pandawa. Tapi, (emang dasar keras kepala) Duryudana mengabaikan nasihat-nasihat tersebut. And then, terjadilah perang yang tidak terelakkan, antara kubu Pandawa melawan kubu Kurawa, di medan Kurusetra. Perang yang menguras tenaga, pikiran bahkan merenggut nyawa banyak orang, terjadi selama delapan belas hari dan dimenangkan oleh…

*eng-ing-eng

I suggest you to read by yourself (biar lebih seru, hahaha).

Dan demikianlah kisah Mahabharata yang sengaja saya tidak ceritakan endingnya, biar kalian curious dan memutuskan untuk membaca Novel ini. Sebenarnya cerita intinya ada pada kisah perang antara Para Pandawa dan Kurawa. Di Novel ini, Rajagopalachari menguraikan kronologi perang tersebut secara amazing, kayak benar-benar nyata guys. Bukan hanya strategi perang, dan gambaran mengenai senjata yang digunakan, atau bagaimana mereka membunuh satu sama lain. Namun situasi yang menegangkan dapat tergambar lewat diksi yang sederhana tapi mampu memancing daya imajinasi kita (Ya, meskipun saya baca versi terjemahan Indonesianya yah guys). Dan yang menarik juga adalah, penulis menggambarkan emosi/perasaan yang bergejolak di hati para Pandawa, serta tokoh lainnya, yang tidak menginginkan perang ini terjadi, tapi terpaksa terlibat dalam perang tersebut. Pokoknya pas baca di bagian ‘saat perang terjadi’, perasaan saya jadi campur aduk. Jadi ikut-ikutan gak tega melihat mereka saling membunuh, meski mereka sadar bahwa mereka adalah keluarga dan saudara (miris).

Well, setelah membaca novel tentang kisah Mahabharata ini, banyak banget pelajaran hidup yang bisa saya ambil. Bagaimana kita harus menjaga perilaku, pengendalian diri, kesabaran, dan menjadi bijaksana, semua terangkum dalam kisah yang legendaris ini. Begitu banyak kata-kata bijak yang waktu saya baca, bikin saya ngangguk-ngangguk karena merasa setuju dan pas kena banget di hati #eeaaa. Dan ini salah satu kutipan favorit saya:

“Perbuatan kita sendirilah yang membuat kita bahagia atau menderita, bukan kebajikan atau kejahatan orang lain” -Resi Sukra (page 40).

I hope you enjoy this review, and go get yourself the Novel, ASAP.

PS: For your information, my boyfriend recommends this book to me. He actually bought it at Gramedia, in Jalan Merdeka, Bandung, a couple months ago.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s