“Othello” by Shakespeare- Drama Review

BY: KARINA JACQUALINE EMAN

Siapa yang gak pernah dengar nama Shakespeare? (ayo angkat kaki..*eh angkat tangan) Jangan berani ngaku-ngaku kamu anak Ga-ul yah, kalo kamu gak kenal siapa Shakespeare guys. He is widely regarded as the GREATEST writer in the English language.

https://en.wikipedia.org/wiki/William_Shakespeare

Anak muda (dengan nada sok menggurui), Shakespeare itu adalah seorang penyair, penulis drama, dan juga actor tekenal dan terkeren yang pernah exist, se-dataran Inggris. Dia lahir di Inggris tahun 1564. Karya-karyanya yang fenomenal (pake banget), seperti drama Romeo and Juliet dan Hamlet masih dikenal hingga sekarang, bahkan sudah sering kali dipentaskan di berbagai penjuru dunia (dalam pertunjukan teater), diterjemahkan ke dalam begitu banyak bahasa di dunia, diadaptasi menjadi sebuah film, dan bahkan dijadikan salah satu mata kuliah di fakultas sastra (pengalaman pribadi coy, sebagai anak sastra yang pernah kontrak mk Shakespearen Drama).

Shakespeare hidup di masa pemerintahan Ratu Elizabeth I. Pada saat itu, Inggris tidak sedang dalam masa perang, melainkan dalam kondisi yang damai dan ramai guys. Minat masyarakat terhadap seni, sastra dan musik pun meningkat pesat. Di masa itu, ada begitu banyak rumah-rumah teater yang dibangun di London, dan menjadi tempat yang sering dikunjungi masyarakat pada saat itu, dari semua kalangan sosial (gedung teater saat itu jadi semacam tempat hangout yang populer lho). Bahkan Ratu Elizabeth menyukai pertunjukan drama yang ditulis sekaligus dipentaskan oleh Shakespeare. Ia sering menghadiri pertunjukan drama yang diangkat dari naskah yang ditulis Shakespeare. Hal itu mungkin bisa menjadi salah satu (dari begitu banyak) alasan mengapa karya-karya Shakespeare begitu outstanding di masa Ia hidup. Tetapi bahkan saat Ia sudah tidak ada, karya-karyanya masih dikenal, menginspirasi dan mempengaruhi banyak penulis-penulis setelahnya.

Okay, let’s not talk about him too much (karena 1000 kata gak bakal cukup untuk menjelaskan dan menggambarkan sosok Shakespeare). If you wanna know more about him, Go Googling aja ya guys. Let’s go on to the next paragraph >

Drama “Othello” by Shakespeare, adalah salah satu drama tragedi yang famous as well, ditulis sekitar tahun 1603. Drama tragedi ini bertemakan cinta, kecemburuan, pengkhianatan, dan balas dendam (wow…sounds like ‘sinetron-sinetron’ Indonesia ya guys hahaha *gak deh, yang ini beda). Terdiri dari lima babak, drama ini terbagi menjadi beberapa scene di setiap babaknya, sehingga total jumlah scenenya adalah 15 scenes. Setting tempatnya di Venice dan di Cyprus. I’m not gonna tell you the whole story, just give you a lil bit depiction about the drama (mudah-mudahan gak spoiler ya…buat kamu yang belum pernah baca Othello).

Babak pertama dibuka dengan adegan Iago dan Roderigo (tokoh-tokoh antagonis dalam drama ini) sedang bercakap-cakap di suatu jalan, di Venice. Mereka berdua ini saling curhat dan keluarin unek-unek, bahwa ternyata mereka punya dendam pribadi sama Othello (si tokoh utama). Saking bencinya pada Othello (I’m not gonna tell you why they hate Othello, find out by yourself :p), mereka bersekongkol untuk menghancurkan kehidupannya.

Who is Othello? Othello adalah seorang jendral perang yang dihormati, disegani, dan disukai banyak orang. Dia memiliki isteri yang berdarah bangsawan, namanya Desdemona, yang sangat amat dicintainya (bisa dibilang, Othello tuh’ cinta gila sama isterinya, guys. Cinta banget, gak ada obatnya).

“..But I do love thee! and when I love thee not,Chaos is come again.” Othello- Act III,iii (in the garden of the castle)

Namun hubungan yang terjalin antara Othello dan Desdemona sempat menimbulkan kontroversi karena adanya perbedaan latar belakang. Jadi, sebenarnya Othello itu berasal dari latar belakang status sosial yang rendah, dan sering digambarkan dalam drama ini sebagai sosok ‘bukan kulit putih’, sehingga dianggap remeh oleh Iago dan Roderigo guys (hmm, rasis ya guys?). In contrast, Desdemona terlahir dari keluarga bangsawan, yang berarti status sosialnya tinggi (for your notes: di Inggris, khususnya pada masa ketika drama ini ditulis Shakespeare, status sosial menjadi hal yang begitu penting guys. Bagaimana cara orang-orang memperlakukan satu sama lain, ditentukan oleh status sosial yang mereka miliki).

Luckily, Othello mampu meningkatkan martabatnya, sebagai seorang pejuang yang gagah berani di medan perang, dia memberikan kontribusi yang besar terhadap negara, dan kemudian Ia diangkat menjadi Jendral. Dengan begitu Ia pun mampu meningkatkan statusnya di tengah-tengah kehidupan sosialnya. Bahkan pejabat-pejabat Negara respect sama Othello. Bukan cuma itu guys, salah satu hal yang membuat Desdemona jatuh cinta terhadap Othello pun adalah sikap gagah berani yang dimilikinya.

Suatu ketika, Othello diberikan tugas oleh Adipati Venice di Cyprus. Isterinya, Desdemona, ikut bersamanya karena tak ingin terpisah dengan Othello (ya iyalah ya, kan penganti baru hehehe). Disana, ada pula Iago, ‘serigala berbulu domba’, yang begitu setia mendampingi Othello, mendengarkan keluhan Othello, bahkan dengan lihai Ia menasihati Othello dengan kata-katanya yang manis. Tanpa Othello sadari, ada rencana-rencana busuk di balik sikap Iago tersebut.

Singkat cerita, rasa cinta Othello yang begitu besar terhadap Desdemona, menjadi kelemahan terbesarnya yang dimanfaatkan oleh the devil, Iago. Iago, seperti yang sudah dijelaskan di atas, bernitat menghancurkan kehidupan Othello dengan menghasutnya, Ia mengatakan bahwa Desdemona selingkuh dengan Cassio (Seorang letnan, bawahannya Othello). Pokoknya si Iago ini gak berhenti ngomporin Othello, sampe-sampe Othello percaya dan termakan hasutan Iago (Ckckck). Hari demi hari, Iago meracuni Othello dengan kata-kata dan cerita-cerita yang tidak benar tentang perselingkuhan Desdemona. Pada puncak kemarahannya, penyakit epilepsi Othello kambuh guys. Lalu, setelah itu Ia mulai bertindak dan berbicara sangat kasar pada Desdemona yang tidak mengerti mengapa suaminya bersikap seperti itu (poor Desdemona -__-). Tuduhan-tuduhan yang tidak berdasarkan fakta, diberikan Othello kepada isterinya. Meski begitu, Desdemona tetap memainkan peran sebagai seorang isteri yang setia, hormat, dan mencintai suaminya. Namun rasa cinta Othello pada Desdemona telah berubah menjadi rasa cemburu yang berlebihan. Pertengkaran demi pertengkaran terjadi. Othello berubah menjadi monster, tanpa Ia sadari. Sementara Iago, puas melihat hasil kerjanya. Ia menikmati kehancuran yang perlahan-lahan datang menghampiri kehidupan Othello (Kejam deh!).

Lalu bagaimanakah akhir dari kisah Othello? Akankah semua jerih payahnya selama ini, yang berhasil membuat Ia menjadi sosok Jendral terhormat menjadi sia-sia? Akankah pernikahannya dengan Desdemona tetap bertahan? Dan yang lebih penting, akankah kejahatan dan rencana busuk Iago terungkap? You should read it by yourself.

Drama Othello bagi saya bukan hanya sekedar kisah cinta yang tragic antara Othello dan Desdemona. Bukan pula sekedar cerita tentang kecemburuan dan dendam yang klise. Namun saya dapat melihat sebuah gambaran kehidupan sosial masyarakat Inggris (khususnya pada masa Shaksepeare hidup) melalui setiap interaksi yang terjadi antar tokoh dalam drama. Banyak unsur-unsur sosial yang mempengaruhi dan/atau menjadi penyebab tokoh-tokoh tersebut bertindak/ memperlakukan satu sama lain. Kelas sosial menjadi salah satu yang ditonjolkan dalam drama ini. Jabatan, kedudukan, kekuasaan, kekayaan menentukan status sosial seseorang dan perannya dalam masyarakat. Ketika kita memahami kondisi atau situasi sosial yang berlaku di zaman Shakespeare hidup, maka kita mungkin akan lebih mudah menerima pesan yang ingin disampaikannya dalam dramanya yang berjudul ‘Othello’ ini .

Untuk itulah drama ini bukan hanya menarik dari segi nilai seninya saja, namun nilai moral dan edukasi juga dapat kita temukan dalam kisah Othello. Meskipun drama adalah sebuah bentuk karya sastra yang dipentaskan, namun jika kamu tidak memiliki kesempatan untuk melihat pementasan drama ini secara langsung, kamu masih bisa menikmati ceritanya dengan membaca teks drama tersebut (gak kalah seru kok guys dibandingkan jika kita menonton sebuah pertunjukan drama).

So, what are you waiting for? Membaca drama-drama Shakespeare sungguh membuka wawasan kita tentang banyak hal. Kalau kamu membaca English version-nya dan menemukan kesulitan dalam memahami bahasa Shakespeare (yang sometimes hanya Shakespeare dan Tuhan yang tahu..hehehe), kamu bisa googling dan cari arti kosa kata tertentu. Gaya bahasa yang digunakan Shakespeare memang bukan bahasa Inggris biasa aja guys. Awalnya saya sendiri sempat bingung mengartikan beberapa kata. Namun jika kita sering membaca dramanya, lama-kelamaan kita akan terbiasa dengan gaya bahasanya, dan akan lebih mudah memahami beberapa kata ‘asing’, dengan melihat konteks yang ada dalam dramanya. For your information, saya membaca drama ini (sudah lebih dari 3 kali, hahaha *songong) by online, kamu bisa visit link-nya disini:

http://shakespeare.mit.edu/othello/full.html

Semoga tulisan ini bisa memacu adrenalin kamu untuk segera membaca drama ‘Othello’. Happy reading! ^_^

the writer.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s